Pasukan di basecamp
Dari dua jalur lain (Cemoro Sewu, Cemoro Kandang), jalur ini yang paling indah, jauh dan menantang, menurutku. Pemilihan letak Candi Cetho mungkin juga terkait dengan keindahan padang sabana sebelum puncak Lawu yang tak dilalui dari jalur lain. Jalur ini juga jarang dilewati jika dibanding jalur lainnya.
Beberapa Candi Hindu menyambut seolah sebagai pintu mengawali tingkatan - tingkatan kehidupan :D. Paling dasar Candi Cetho yang berundak - undak dilanjutkan Candi Saraswati dan diakhiri Candi Kethek. Sebelum Candi Kethek pendaki akan turun melewati sungai. Candi Kethek merupakan pos pertama.
Jalur mulai menanjak melewati ladang warga setelah Candi Kethek, kemudian masuk hutan sampai pos II, Brak Seng.
Setelah pos II jalur mulai didominasi hutan pinus yang terbakar, sesekali dijumpai warga yang sedang membakar kayu untuk dijadikan arang sebelum pos III, Cemoro Dowo. Berdebu, kering dan rusak, itulah kesan yang aku tangkap setelah melalui jalur dari pos II - pos III.
Walaupun telah terbakar, hutan pinus antara pos III sampai pos Penggik malah menunjukkan keunikan pemandangannya. Jalur menanjak melewati puncak punggungan bukit yang curam.
Gundukan bebatuan mengawali perjalanan keluar dari hutan bakar menuju hamparan padang sabana. Inilah spot paling istimewa di gunung Lawu. Pepohonan cemara memayungi padang dan perbukitan sabana dengan tenangnya, hanya suara angin yang menggesek dedaunan menggoyangkan rerumputan melewati bukit. Pos V Bulak Peperangan juga dinamakan karena sabananya.
Keluar dari sabana, puncak sudah terlihat. Perjalanan ke puncak dari pos Hargo Dalem memakan waktu kurang lebih 30 menit.
|
0 comments:
Post a Comment