7.9.13

Rangkuman Program Kerja KKN di Desa Mabat

Telah sejak lama Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi mata kuliah wajib di berbagai universitas di Indonesia. Dengan mata kuliah ini diharapkan para mahasiswa dapat menerapkan ilmu yang diperoleh dari bangku kuliah untuk menyelesaikan masalah - masalah yang ada dalam masyarakat. Meskipun pada kenyataanya mahasiswalah yang lebih mendapat pengalaman dan pelajaran dari masyarakat. Universitas Gadjah Mada yang menjadi pelopor terbentuknya KKN telah mengirimkan  mahasiswanya ke seluruh pelosok - pelosok Indonesia. Telah lama KKN ada maka telah banyak pula cerita - cerita tentang kegiatan ini dituturkan oleh orang - orang yang mengalaminya. Walaupun banyak kesamaan dan terkesan pengulangan tiap tahunnya, tapi masing - masing unit mempunyai keunikan tersendiri dalam mengeksekusi program - programnya, baik untuk menyelesaikan masalah yang ada di desa tempat KKN ataupun sekedar memenuhi lembar laporan. Berikut program - program unit KKN ku yang diselenggarakan di desa Mabat, Kecamatan Bakam, Kabupaten Bangka, Propinsi Bangka Belitung.


Plangisasi


Bisa dikatakan tak ada KKN tanpa plangisasi. Plang dapat menjadi media publikasi dan catatan sejarah bahwa tim KKN tersebut sudah pernah ada di sana. Program ini sudah direncanakan sebelumnya menurut survei tim bahwa di Desa Mabat belum terdapat plang jalan walaupun jalannya sudah mempunyai nama. Program ini kami laksanakan di minggu - minggu awal KKN. Alat dan bahan kami kumpulkan dari swadaya warga Mabat.  Plang terbuat dari besi plat yang disambung dengan besi silinder panjang, semua dibantu oleh tukang las yang kebetulan ada di desa. Plat besi kemudian di cat hijau keseluruhannya dan ditulisi dengan cat putih. 









Penyaring Air


Ada tiga sumber air yang biasa digunakan warga desa Mabat. Air sungai yang telah sejak lama digunakan warga untuk MCK bahkan untuk minum dan memasak, tetapi saat ini warga biasa minum dari air galon dari luar maupun dari warga yang mempunyai penyaring air sendiri. Kemudian air sumur tersedia di beberapa rumah warga. Untuk membuat sumur bormaupun sumur keruk diperlukan biaya mahal sehingga tidak banyak warga yang mempunyai sumur ini. Warga yang tak memiliki sumur kadang mengambil air ke sumur warga lain ataupun sumur umum. Sampel air sumur telah kami bawa ke Dinas Kesehatan tetapi belum mendapat hasil sampai sekarang. Terakhir air SPAM (Sumur Pompa Air Massal) hadiah dari pemerintah yang pengerjaannya serampangan dan kurang perhitungan. Sumur ini berdiameter sekitar 10 meter dengan kedalaman total 6 meter dan kedalaman air di musim hujan 3 meter. Masalahnya, air yang keluar bercampur dengan tanah merah yang merupakan karakter tanah di sekitaran sumur, air yang keluar pun hanya rembesan air sungai yang terletak di dekatnya. Walaupun demikian, air ini sudah terlanjur didistribusikan ke rumah - rumah warga yang tidak memiliki sumur sendiri.




Akhirnya kami memilih untuk penyelesaian sementara masalah air dengan membuat filter air. Terbuat dari bahan - bahan yang mudah di dapat seperti ijuk aren dan arang kayu. Sebelumnya kami mencoba berbagai bahan lain seperti pasir, namun pasir di daerah Bangka terlalu halus jadi pasir ikut keluar bersama air dan debitnya terlalu kecil. Ijuk kami masukkan terlebih dahulu kemudian dipadatkan dan diatasnya ditambah arang tumbuk yang dikocok - kocok untuk mendapatkan kerapatan maksimal. Wadah dapat berupa botol air mineral 1,5 liter yang dilubangi atasnya sebagai tempat masuknya air maupun ember yang dilubangi bawahnya. Penyaring air kemudian kami instalasikan di kamar mandi kantor desa dan kami sosialisasikan  kepada beberapa warga. Untuk jangka panjang sebenarnya telah di rencanakan relokasi air SPAM ke waduk baru yang lebih besar dan lebih jernih. Waduk telah selesai dibuat oleh perusahaan sawit setempat, tetapi terhenti karena dulu warga hanya mengajukan pembuatan waduk tanpa pendistribusian dan pengelolaan mesin pompa.


Pengadaan Tong Sampah


Warga desa kurang sadar dengan kerapian dan kebersihan lingkungan.Terbukti dengan tercecernya sampah plastik di pekarangan rumah maupun di daerah aliran sungai. Kami sempat mencoba berhubungan dengan Badan Lingkungan Hidup untuk pengadaan Tempat Pembuangan Sementara ataupun Tempat Pembuangan Akhir. Namun, keduanya tidak memungkinkan karena letak Mabat yang jauh dari daerah operasi sebelumnya dan ijin untuk TPA tidak mudah. Akhirnya kami memilih untuk memasang tong sampah di tempat - tempat umum yang sering didatangi warga seperti musola, masjid, sekolah, lapangan, koperasi, kantor desa, dll. Sampah yang terkumpul kemudian dibakar langsung dalam tong yang terbuat dari besi. Dengan demikian warga yang melihat semoga dapat terinspirasi dan menerapkannya di rumah masing - masing. Tong sampah kami dapat dari perusahaan sawit di Desa Mabat dengan mengirim proposal ditambah hubungan langsung dengan humasnya. Cara membuatnya dengan membelah dua drum bekas penampung minyak dan memberi tangkai pegangan di bibirnya.


Bersih Sungai


Warga biasa mandi di sungai tetapi tidak menyadari kebersihan sungai. Sampah - sampah mandi dibuang begitu saja di bantaran sungai. Melihat hal ini, kami bekerja bersama membersihkan sungai dengan mengumpulkan sampah yang tercecer di daerah aliran sungai ke dalam suatu bak galian. Tak ada cara lain selain membakar sampah ketika sampah dalam bak penuh. Minimal dengan usaha seperti ini, aliran sungai terlihat bersih dan tidak ada kotoran yang ikut hanyut ke air sungai.


Bersih Gapura


Desa - desa di Pulau Bangka hanya di hubungkan oleh jalan tunggal. Batas - batas antar desa di sepanjang jalan diberi gapura yang sudah ada belasan tahun lalu. Gapura desa Mabat tertutupi oleh semak - semak dan rumput kacangan sehingga tidak terlihat dengan jelas. Kami bersama pemuda setempat bergotong royong membersihkan gapura kemudian mengecat ulang tulisan yang telah pudar. Keadaan desa tercermin dari pemandangan pertama ketika memasuki desa, desa yang bersih dan tertata tak mungkin gapuranya kotor.


Penyuluhan Kesehatan


Salah satu faktor terpenting dari suatu desa adalah masalah fasilitas dan kesadaran kesehatan warganya. Akses ke puskesmas di  desa Mabat cukup jauh, tetapi ada seorang bidan yang menangani berbagai keluhan kesehatan warga. Untuk itu, warga harus menjaga kesehatannya lebih hati - hati. Kami bekerja sama dengan Puskesmas Kecamatan mengadakan penyuluhan kesehatan dengan berbagai tema mulai dari malaria sampai dengan keluarga berencana. Penyuluhan ini dihadiri dengan antusias oleh ibu - ibu desa Mabat.


Penyuluhan Pertanian


Pertanian merupakan sektor inti penyangga perekonomian desa Mabat. Hampir setiap warganya berprofesi sebagai petani. Kami telah merencanakan dari awal untuk mengadakan penyuluhan di bidang pertanian dengan mengundang pembicara yang ahli di bidangnya. Setelah mengajukan berbagai proposal akhirnya terjalinlah kerjasama dengan Majelis Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah yang mengirimkan dua orang ahli pertaniannya ke Desa Mabat. Acara ini akhirnya mendapat perhatian paling besar dari warga Mabat. Di awali dengan penyuluhan dalam ruang tentang integrasi pertanian dan peternakan, tips - tips pertanian dan penyelesaian masalah berkaitan dengan tanaman yang biasa ditanam oleh warga desa Mabat. Siang hari sampai sore diisi oleh materi lapangan dengan berkunjung langsung ke kebun warga. Warga banyak bertanya tentang masalah yang berkaitan dengan tanaman kebun mereka seperti karet, lada, sawit dan cabai. Pihak MPM Muhammadiyah juga sempat bertemu dengan bupati berkaitan dengan bantuan ternak kepada warga desa yang mau beternak. Tindakan lebih lanjut tergantung kepada warga apakah mereka tergerak untuk mengintegrasikan pertanian dengan peternakan atau tetap bergantung pada pupuk kimia.


Perintisan Penggunaan Kompos dan Pupuk Organik


Dalam menanggapi penyuluhan yang diadakan sebelumnya, kami mengadakan praktek langsung pembuatan dan penggunaan kompos pada lahan warga. Kami bekerjasama dengan seorang warga setempat untuk memberanikan diri mencoba menggunakan kompos sebagai pupuk dasar sebelum bercocok tanam. Warga biasa menggunakan kotoran ayam yang dicampur dengan pupuk kimia seperti NPK untuk pupuk dasar. Padahal kedua pupuk tersebut mempunyai kadar nitrogen, pospor dan kalium yang begitu tinggi hingga berakibat tumbuhan menjadi kepanasan. Kebetulan di desa Mabat telah mempunyai mesin penggiling (chopper) yang biasa digunakan untuk membuat kompos. Hanya saja belum ada warga yang mencoba menggunakan mesin tersebut karena warga belum tahu tentang kelebihan dan cara memproduksi kompos. Bahan - bahan seperti rerumputan dan tandan kosong sawit dengan mudah kami dapatkan di sekitar Mabat, sedangkan untuk kotoran ternak harus kami beli dari luar desa. Rumput dan tandan yang telah digiling dicampur secara bergantian dan diletakkan diatas kotoran ternak. Tumpukan kemudian disiram dengan fermentasi mikroorganisme yang terbuat dari nanas, gula merah dan air cucian beras yang didiamkan selama seminggu dan ditutup dengan plastik besar atau terpal. Setelah sebulan kompos dapat dipanen. Hasil panenan akan dicobakan pada lahan tempat menanam cabai. 






Kerajinan Tangan

 Terlalu banyak limbah yang terbengkalai begitu saja di sekitaran desa Mabat, seperti plastik, sabut kelapa, ijuk aren, tandan sawit, dll. Kami mengadakan pelatihan pengolahan limbah menjadi kerajinan tangan seperti bunga dan pernak pernik. Pelatihan ini diadakan tiap Jum'at siang dan diikuti oleh ibu - ibu dan pemudi - pemudi desa.






Kelompok Belajar

Tema dan judul KKN kami di Mabat berkaitan dengan pendidikan, maka program utama dan yang sering kami lakukan juga berkaitan dengan pendidikan. Salah satunya adalah kelompok belajar yang kami adakan secara informal di berbagai tempat, seperti kebun sawit, kantor desa, halaman, bahkan saat jalan - jalan.

Pesantren Kilat

Lomba Ramadhan

Lomba 17-an

Karnaval 17-an

Sebenarnya kami hanya berencana menyelenggarakan lomba pawai sepeda hias dengan peserta anak - anak desa. Namun seorang pemuda desa mengusulkan untuk mengubah konsep acara menjadi seperti karnaval yang diisi tidak hanya sepeda hias saja tapi juga pesta kostum. Acara dimulai pukul 14.00 siang sampai sore. Peserta berkumpul di SDN 2 Mabat kemudian berjalan mengelilingi jalan desa. 







Obor Takbir






























0 comments:

Post a Comment

menu