Sebuah permainan telah
dirancang. Beberapa orang diundang untuk ikut dalam permainan tersebut. Mereka
ditata duduk berurutan membentuk sebuah lingkaran. Di tengah lingkaran terdapat
sebuah meja bundar transparan dengan sebuah silinder hitam di atasnya. Para
peserta mempunyai pandangan yang sama karena ruang yang juga berbentuk
silinder, yang membedakan hanyalah siapa bisa memandang siapa. Mereka diikat
nyaman pada kursi – kursi tersebut.
Setelah menunggu
beberapa saat lampu tiba – tiba mati. Ruangan menjadi ramai sampai terdengar
suara keras yang keluar dari sebuah mikrofon. “Diam !”, demikian suara yang
terdengar oleh para peserta. Bentakan keras tersebut
membuat ruangan kembali hening.
Beberapa jam telah
berlalu, ruangan tetap hening. Hanya terdengar beberapa peserta mengobrol lirih
dengan peserta lain di sampingnya. Dengan penasaran, seorang peserta memencet
sebuah tombol yang berada di tangan kursi sebelah kanan. Tidak ada suatu hal
apapun terjadi, kemudian ia memencetnya berulang kali hingga pada pencetan ke
tujuh, terdengar bunyi jatuh dari tengah. Seorang peserta berkata, “
silindernya !”. Ruangan kembali terang seiring dengan jatuhnya silinder
tersebut.
Asap berwarna kuning
pekat keluar dari silinder yang terbelah dua itu. Baunya begitu pekat hingga
memekakkan hidung. Semakin lama seluruh ruangan terselimuti oleh asap kuning.
Ruangan kembali ramai, para peserta mulai memperdebatkan kejadian itu.
Ketakutan, pertanyaan dan jawaban mulai muncul di antara para peserta.
Seorang peserta menjadi
perhatian karena ia mengaku beberapa waktu sebelum jatuh ia memencet tombol
yang terdapat di tangan kursi kanannya. Semua peserta kemudian mencari tombol
yang dimaksud. Namun, tidak terjadi apa – apa setelah setiap peserta mencoba memencet
tombol itu walaupun berulang kali.
“Mungkin itu tombol
untuk menjatuhkan silinder itu,” kata seorang peserta. “Berarti ini
kesalahannya,” kata peserta lain sambil menunjuk pemencet tombol. “Tidak, aku
tadi juga memencetnya walaupun hanya sekali, dan tak terjadi apapun.” Seorang
peserta lain menyautnya.
“Mungkin ada suatu
mekanisme yang membuat silinder itu jatuh sendiri” lanjut pemencet tombol. “Ya,
tapi seperti apa.”
“Seperti jam pasir,
yang membuat titik keseimbangan silinder berpindah dari kanan atas ke kiri
bawah sehingga menjatuhkan silinder itu.”
“Hmhh itu hanya
alasanmu supaya kau tidak disalahkan.” Seorang peserta sambil batuk – batuk
menolak tak percaya.
“Tenang teman – teman,
yang harus kalian pikirkan adalah bagaimana cara keluar dari ruangan ini, atau
setidaknya selamat dari asap bau ini, yang aku tahu ini adalah bau belerang
yang bisa membunuh kalian.”
Beberapa waktu kemudian
tabung berhenti mengeluarkan asap dan sedikit demi sedikit asap menghilang.
Meja transparan yang berada di tengah terdorong ke atas diikuti keluarnya
seseorang dari bawah. Seorang peserta melemparkan pernyataan pada orang itu,
“Hei, permainan macam apa ini, lepaskan kami.”
Orang itu tersenyum
beberapa saat dan berkata, “Belum ada yang benar.” Kemudian orang itu turun
beserta meja yang ikut turun dan menghilang. Sabuk yang mengikat para peserta
di tempat duduknya lepas, para peserta bisa berdiri dan bebas. Pintu terbuka
dan gas kuning kembali tersembur dari pojok – pojok ruangan. Dengan disertai
ketakutan, secara terburu para peserta berebut keluar dari ruangan. Setelah
semua peserta keluar, ruangan itu seperti membakar dirinya dengan api yang
begitu besar hingga hanya menyisakan tumpukan arang.
0 comments:
Post a Comment