30.4.14

Seni Tak Sepenuhnya Mengetahui

Sebuah permainan telah dirancang. Beberapa orang diundang untuk ikut dalam permainan tersebut. Mereka ditata duduk berurutan membentuk sebuah lingkaran. Di tengah lingkaran terdapat sebuah meja bundar transparan dengan sebuah silinder hitam di atasnya. Para peserta mempunyai pandangan yang sama karena ruang yang juga berbentuk silinder, yang membedakan hanyalah siapa bisa memandang siapa. Mereka diikat nyaman pada kursi – kursi tersebut.

Setelah menunggu beberapa saat lampu tiba – tiba mati. Ruangan menjadi ramai sampai terdengar suara keras yang keluar dari sebuah mikrofon. “Diam !”, demikian suara yang terdengar oleh para peserta. Bentakan keras tersebut membuat ruangan kembali hening.

Beberapa jam telah berlalu, ruangan tetap hening. Hanya terdengar beberapa peserta mengobrol lirih dengan peserta lain di sampingnya. Dengan penasaran, seorang peserta memencet sebuah tombol yang berada di tangan kursi sebelah kanan. Tidak ada suatu hal apapun terjadi, kemudian ia memencetnya berulang kali hingga pada pencetan ke tujuh, terdengar bunyi jatuh dari tengah. Seorang peserta berkata, “ silindernya !”. Ruangan kembali terang seiring dengan jatuhnya silinder tersebut.

Asap berwarna kuning pekat keluar dari silinder yang terbelah dua itu. Baunya begitu pekat hingga memekakkan hidung. Semakin lama seluruh ruangan terselimuti oleh asap kuning. Ruangan kembali ramai, para peserta mulai memperdebatkan kejadian itu. Ketakutan, pertanyaan dan jawaban mulai muncul di antara para peserta.

Seorang peserta menjadi perhatian karena ia mengaku beberapa waktu sebelum jatuh ia memencet tombol yang terdapat di tangan kursi kanannya. Semua peserta kemudian mencari tombol yang dimaksud. Namun, tidak terjadi apa – apa setelah setiap peserta mencoba memencet tombol itu walaupun berulang kali.

“Mungkin itu tombol untuk menjatuhkan silinder itu,” kata seorang peserta. “Berarti ini kesalahannya,” kata peserta lain sambil menunjuk pemencet tombol. “Tidak, aku tadi juga memencetnya walaupun hanya sekali, dan tak terjadi apapun.” Seorang peserta lain menyautnya.

“Mungkin ada suatu mekanisme yang membuat silinder itu jatuh sendiri” lanjut pemencet tombol. “Ya, tapi seperti apa.”

“Seperti jam pasir, yang membuat titik keseimbangan silinder berpindah dari kanan atas ke kiri bawah sehingga menjatuhkan silinder itu.”

“Hmhh itu hanya alasanmu supaya kau tidak disalahkan.” Seorang peserta sambil batuk – batuk menolak tak percaya.

“Tenang teman – teman, yang harus kalian pikirkan adalah bagaimana cara keluar dari ruangan ini, atau setidaknya selamat dari asap bau ini, yang aku tahu ini adalah bau belerang yang bisa membunuh kalian.”

Beberapa waktu kemudian tabung berhenti mengeluarkan asap dan sedikit demi sedikit asap menghilang. Meja transparan yang berada di tengah terdorong ke atas diikuti keluarnya seseorang dari bawah. Seorang peserta melemparkan pernyataan pada orang itu, “Hei, permainan macam apa ini, lepaskan kami.”


Orang itu tersenyum beberapa saat dan berkata, “Belum ada yang benar.” Kemudian orang itu turun beserta meja yang ikut turun dan menghilang. Sabuk yang mengikat para peserta di tempat duduknya lepas, para peserta bisa berdiri dan bebas. Pintu terbuka dan gas kuning kembali tersembur dari pojok – pojok ruangan. Dengan disertai ketakutan, secara terburu para peserta berebut keluar dari ruangan. Setelah semua peserta keluar, ruangan itu seperti membakar dirinya dengan api yang begitu besar hingga hanya menyisakan tumpukan arang.

0 comments:

Post a Comment

menu